Bukan Cuma Soal Pilkades, Ini Cerita Istri dan Warga tentang Sosok Joni Anwar Selama Memimpin Susukan

Galang Syarifudin
Galang Syarifudin
18 Okt 2026 06:41
6 menit membaca

KAB.SEMARANG, Mojoknews.com – Menjadi kepala desa rupanya bukan cuma perkara duduk di kantor, tanda tangan berkas, atau menghadiri acara seremonial. Ada kalanya urusan warga datang tanpa mengenal jam kerja. Bahkan, waktu untuk keluarga pun bisa ikut tersita.

Begitulah kira-kira gambaran keseharian Joni Anwar, Kepala Desa Susukan, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang, yang kini kembali maju sebagai bakal calon kepala desa dalam Pilkades 2026.

Di mata istrinya, Nurhamidah (43), Joni dikenal sebagai sosok yang ringan tangan. Kalau ada warga membutuhkan bantuan, sebisa mungkin akan dibantu. Entah dengan tenaga, pikiran, atau bahkan merogoh kantong sendiri.

“Orangnya baik, dermawan. Kalau ada orang minta bantuan, semampunya pasti dibantu. Bisa berupa pikiran, tenaga, kadang materi juga. Bahkan, kalau ada kegiatan warga, kepentingan masyarakat sering lebih diutamakan,” ujar Nurhamidah.

Tentu saja, menjadi istri kepala desa yang suaminya lebih sering sibuk mengurus masyarakat bukan perkara gampang.

Apalagi, sebelum menjabat kepala desa, Joni punya lebih banyak waktu di rumah. Begitu menjadi orang nomor satu di pemerintahan desa, ceritanya berubah.

Urusan warga seolah tak ada habisnya. Sementara itu, keluarga harus belajar memahami bahwa kepala desa bukan pekerjaan yang selalu bisa ditinggalkan begitu jam kantor selesai.

Nurhamidah mengaku sempat protes. Maklum, siapa pula yang tidak ingin punya waktu lebih banyak bersama suami?

“Awal-awal ya protes, Pak. Tapi lama-kelamaan, setelah tahu kegiatannya seperti apa, akhirnya saya mengizinkan dan mendukung,” tuturnya.

Setelah delapan tahun mendampingi suaminya menjalankan pemerintahan desa, Nurhamidah akhirnya terbiasa dengan kesibukan tersebut.

Bahkan, ketika Joni memutuskan kembali maju dalam Pilkades Susukan 2026, ia tetap memberikan dukungan.

Ketika Suami Diterpa Isu, Istri Ikut Kaget

Menjelang Pilkades, suasana politik desa mulai menghangat. Sejumlah isu negatif mengenai Joni pun beredar di tengah masyarakat.

Bagi Nurhamidah, kabar tersebut tentu bukan sesuatu yang menyenangkan. Apalagi, orang yang menjadi pembicaraan adalah suaminya sendiri.

Ia mengaku sempat terkejut. Namun, alih-alih langsung mempercayai kabar yang beredar, Nurhamidah memilih bertanya langsung kepada Joni.

“Pertama ya kaget, Pak. Karena setahu saya, suami saya tidak melakukan hal-hal yang menyimpang. Saya kemudian klarifikasi langsung kepada suami, kok keadaannya bisa seperti ini,” katanya.

Setelah mendengar penjelasan sang suami, Nurhamidah memutuskan tetap memberikan dukungan.

“Saya akhirnya merestui pencalonan Bapak yang kedua,” ucapnya.

Bagi Nurhamidah, keputusan tersebut tentu bukan tanpa pertimbangan. Ia sudah merasakan sendiri bagaimana menjadi pendamping seorang kepala desa selama satu periode.

Artinya, jika Joni kembali terpilih, ia juga harus siap berbagi waktu suami dengan urusan masyarakat untuk delapan tahun berikutnya.

Di Mata Warga, Joni Dinilai Terbuka dan Memikirkan Masyarakat

Cerita tentang Joni ternyata tidak berhenti di lingkungan keluarga.

Nafik Umami, salah seorang warga Desa Susukan, juga punya penilaian tersendiri terhadap kepemimpinan Joni selama delapan tahun terakhir.

Menurut Nafik, Joni merupakan sosok pemimpin yang terbuka dan memiliki perhatian terhadap masyarakat.

“Pak Joni selama menjabat satu periode atau delapan tahun itu bagus, Pak. Tidak ada kendala apa pun. Dia transparan, apa adanya, dan memikirkan warga,” ungkap Nafik.

Soal isu negatif yang belakangan beredar, Nafik punya pandangan sendiri.

Ia menduga kemunculan isu tersebut berkaitan dengan dinamika politik menjelang pemilihan kepala desa.

Namanya juga kontestasi politik. Bahkan di tingkat desa, perbedaan pilihan bisa membuat suasana yang tadinya adem menjadi sedikit panas.

“Kalau ada isu-isu yang tidak baik atau istilahnya black campaign, menurut saya itu hanya kepentingan segelintir orang. Saya ngomong seperti ini berani bertanggung jawab karena saya tahu Pak Joni itu seperti apa,” tegasnya.

Meski demikian, dugaan tersebut merupakan penilaian pribadi Nafik dan bukan kesimpulan mengenai pihak tertentu.

Nafik juga menyebut keputusan Joni untuk kembali mencalonkan diri tidak lepas dari dorongan sebagian masyarakat.

“Jelas ada dorongan warga untuk maju lagi,” katanya.

Cerita Warga Lansia: Ada Ruko, Jalan Dibangun, tetapi Belum Semuanya Selesai

Penilaian lain datang dari Sutinseh (70), warga Desa Susukan yang mengaku ikut merasakan perubahan selama Joni menjabat kepala desa.

Di usianya yang sudah menginjak tujuh dekade, Sutinseh tentu punya cukup banyak pengalaman melihat perkembangan desanya.

Ia menyebut keberadaan deretan rumah toko atau ruko di depan MTs serta pembangunan jalan sebagai beberapa perubahan yang terlihat.

Menurutnya, pembangunan tersebut turut memberikan dampak terhadap aktivitas masyarakat.

“Alhamdulillah, saya merasakan selama Pak Joni menjadi lurah. Ada ruko-ruko di depan MTs, jalan juga. Walaupun masih ada kekurangan, karena manusia tidak ada yang sempurna,” ujarnya.

Sutinseh juga tidak menutup mata bahwa masih ada pekerjaan rumah yang belum diselesaikan pemerintah desa.

Namun, ia berharap program pembangunan yang belum tuntas dapat dilanjutkan apabila Joni kembali memperoleh kepercayaan masyarakat.

“Mudah-mudahan kalau Pak Joni jadi lagi, program-program yang belum selesai bisa dilanjutkan sampai bagus,” tuturnya.

Bagi Sutinseh, menilai seorang kepala desa tidak harus selalu dengan kacamata hitam putih.

Ada keberhasilan yang bisa diapresiasi, tetapi ada pula kekurangan yang perlu diperbaiki.

“Namanya orang, ada yang suka dan ada yang tidak suka. Itu biasa. Manusia kan tidak ada yang sempurna, pasti ada kekurangan dan kelebihannya,” katanya.

Menariknya, Sutinseh juga ikut menanggapi isu transaksi lahan yang belakangan menjadi pembicaraan di masyarakat.

Ia mengaku mengetahui proses pembicaraan harga dalam transaksi lahan yang pernah melibatkan dirinya.

Menurut Sutinseh, dalam urusan jual beli tanah, tawar-menawar harga merupakan sesuatu yang lumrah.

Ia bahkan menceritakan bahwa Joni pernah datang menemuinya untuk membicarakan harga lahan.

“Pak Joni pernah ke tempat saya. Kalau harga segini, saya belum boleh. Kalau segini, saya oke,” ungkapnya.

Bagi Sutinseh, persoalan transaksi lahan semestinya dilihat berdasarkan duduk perkara yang sebenarnya.

Jangan sampai sebuah persoalan langsung dikaitkan dengan urusan lain tanpa memahami bagaimana prosesnya berlangsung.

Apalagi, menjelang Pilkades, kabar yang beredar dari mulut ke mulut bisa saja berkembang menjadi pembicaraan yang semakin luas.

Sutinseh sendiri mengaku terkejut mendengar isu yang dinilainya dapat memengaruhi nama baik Joni.

Meski begitu, ia memahami bahwa setiap warga memiliki pandangan dan pilihan politik masing-masing.

Ada yang mendukung, ada pula yang menginginkan perubahan kepemimpinan. Semuanya merupakan bagian dari dinamika demokrasi desa.

Pilkades Bukan Cuma Soal Menang dan Kalah

Cerita Nurhamidah, Nafik Umami, dan Sutinseh memperlihatkan bagaimana Joni Anwar dipandang oleh keluarga serta sebagian masyarakat Desa Susukan.

Dari seorang istri yang sempat protes karena suaminya terlalu sibuk mengurus warga, hingga masyarakat yang menilai pembangunan desa masih perlu dilanjutkan.

Tentu saja, penilaian ketiganya bukan berarti mewakili seluruh warga Susukan. Dalam kontestasi Pilkades, setiap orang punya pengalaman, harapan, dan pertimbangan masing-masing.

Joni sendiri kini kembali menghadapi ujian politik setelah delapan tahun memimpin Desa Susukan.

Pada akhirnya, warga yang akan menentukan apakah kepemimpinannya layak dilanjutkan atau justru perlu berganti.

Sebab, dalam Pilkades, dukungan keluarga dan cerita baik dari sebagian warga memang bisa menjadi modal. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan masyarakat.

Dan satu hal yang pasti, siapa pun yang nantinya terpilih menjadi kepala desa, urusan warga tampaknya akan tetap datang tanpa mengenal jam kerja.(*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x
⚠️ Lisensi Aktual Theme tidak aktif.