Baru Setahun Jadi Menkeu, Purbaya Dicopot: Kursinya Belum Dingin, Sudah Disuruh Minggir

Ulil Aydi
Ulil Aydi
14 Sep 2026 22:13
3 menit membaca

MOJOKNEWS.COM – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa resmi dicopot Presiden Prabowo Subianto pada Senin (14/9/2026). Padahal baru setahun menjabat. Rupanya kursi Menteri Keuangan memang tidak mengenal istilah “baru juga adaptasi”.

Purbaya Yudhi Sadewa mungkin belum sempat menghafal seluruh isi ruangan Menteri Keuangan, tetapi sudah harus meninggalkan kursinya.

Presiden Prabowo Subianto mencopot Purbaya dari jabatan Menteri Keuangan pada Senin (14/9/2026). Posisinya kemudian diisi Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara.

Kalau dihitung-hitung, Purbaya baru sekitar setahun menjadi orang yang bertugas mengurus dompet negara. Ia dilantik pada 8 September 2025 menggantikan Sri Mulyani Indrawati.

Artinya, belum lama menjabat, belum selesai mengurus pekerjaan rumah, sudah datang kabar: “Pak, cukup sampai sini.”

Alasan spesifik pergantian tersebut belum dijelaskan pemerintah.

Dan seperti biasa, ketika pemerintah tidak banyak bicara, ruang kosong itu segera diisi pertanyaan publik.

Kenapa diganti?

Pertanyaan sederhana, tetapi jawabannya tidak sesederhana mencari saldo rekening setelah tanggal tua.

Rp 200 triliun: uang negara jangan cuma duduk manis

Salah satu gebrakan Purbaya ketika menjadi Menkeu adalah menempatkan dana pemerintah sebesar Rp 200 triliun di lima bank umum mitra pada September 2025.

BRI, BNI, Bank Mandiri, BTN, dan BSI menjadi tempat dana tersebut ditaruh.

Tujuannya jelas: memperkuat likuiditas perbankan dan mendorong aktivitas ekonomi.

Purbaya memang punya pendekatan yang cukup khas. APBN, menurut logika yang ia dorong, jangan cuma dipakai untuk menjaga agar angka defisit tidak bikin ekonom pingsan.

APBN juga harus bekerja.

Uang negara diharapkan berputar, kredit bergerak, investasi tumbuh, ekonomi ikut lari.

Masalahnya, ekonomi ternyata bukan motor yang cukup diisi bensin lalu otomatis melaju.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia memang sempat naik menjadi 5,61 persen pada kuartal I 2026. Namun pada kuartal II kembali turun menjadi 5,29 persen.

Target 6 persen pun masih seperti mantan: sudah dikejar, tetapi belum berhasil digapai.

Purbaya tetap optimistis angka tersebut bisa dicapai. Salah satu kuncinya, menurut dia, adalah investasi.

Pertumbuhan investasi perlu didorong hingga sekitar 7 persen. Pemerintah menjadi katalisator, swasta diharapkan menjadi mesin utama, sementara Danantara ikut dilibatkan.

Konsepnya sudah disiapkan.

Tinggal hasilnya.

Sayangnya, sebelum semuanya selesai, menterinya keburu diganti.

Suahasil: ganti orang, katanya bukan ganti arah

Menariknya, pengganti Purbaya bukan sosok yang baru turun dari langit birokrasi.

Suahasil Nazara sebelumnya adalah Wakil Menteri Keuangan.

Jadi, kalau dianalogikan dengan dapur, ini bukan mengganti koki dengan orang yang sama sekali belum pernah melihat kompor.

Orangnya masih dari dapur yang sama.

Bahkan Suahasil menyebut pergantian tersebut bukan perubahan arah kebijakan.

“Ini bukan perubahan, ini adalah kelanjutan saja,” kata Suahasil setelah dilantik.

Nah, di sinilah bagian menariknya.

Kalau memang kelanjutan, lalu pertanyaannya sederhana:

Apa yang sebenarnya berubah?

Kalau kebijakan diteruskan, APBN tetap diarahkan mendorong pertumbuhan, reformasi perpajakan tetap jalan, investasi tetap digenjot, dan defisit serta utang tetap dijaga, maka publik boleh saja bertanya-tanya.

Apakah yang diganti hanya nama di pintu ruangan?

Atau ada sesuatu yang belum diketahui publik?

Tentu saja, mengganti menteri adalah hak prerogatif presiden. Tidak ada aturan yang mengatakan seorang menteri harus diberi kesempatan sampai benar-benar bosan duduk di kursinya.

Namun dari sisi publik, pergantian setelah setahun tetap menarik untuk dicermati.

Sebab Purbaya pergi ketika sejumlah agenda yang ia bawa belum sepenuhnya selesai diuji.

Target pertumbuhan 6 persen belum tercapai.

Reformasi perpajakan dan kepabeanan masih berjalan.

Belanja produktif masih harus dikejar.

Investasi masih harus didorong.

Dan APBN masih dituntut menjadi sehat sekaligus menjadi mesin pertumbuhan.

Lalu datang Suahasil dengan pesan: lanjutkan saja.

Ya sudah.

Kalau begitu, tinggal kita tunggu apakah resep lama dengan koki baru akan menghasilkan rasa yang berbeda.

Sebab dalam urusan APBN, yang paling penting bukan siapa yang duduk di kursi menteri.

Yang paling penting: jangan sampai rakyat terus diminta percaya bahwa ekonomi sedang tumbuh, sementara dompet mereka masih merasa pertumbuhan itu cuma kabar dari grup WhatsApp.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x