Tak Menjauh dari Kritik, Pimpinan UIN Salatiga Temui Mahasiswa dan Buka Dialog

Yudha Wardhana
Yudha Wardhana
7 Okt 2026 08:08
2 menit membaca

SALATIGA,Mojoknews.com – Kalau biasanya aksi mahasiswa identik dengan spanduk, suara lantang, dan tuntutan yang berderet, ada satu hal yang menarik dari aksi mahasiswa UIN Salatiga, Rabu (7/10/2026).

Kali ini, aspirasi mahasiswa tidak dibiarkan berhenti di depan gedung kampus. Pimpinan UIN Salatiga datang menemui mereka dan membuka ruang dialog.

Aksi berlangsung di Kampus 3 UIN Salatiga sejak sekitar pukul 09.30 WIB.

Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Pro Demokrasi Langsung awalnya berkumpul di depan kantin Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI). Dari sana, mereka bergerak menuju gedung Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), kemudian berhenti di depan lapangan voli.

Lima spanduk dibentangkan.

Isinya bukan perkara sepele. Mahasiswa membawa sejumlah persoalan yang mereka anggap perlu mendapat perhatian kampus.

Mulai dari KKN reguler, kebijakan MBKM, mekanisme pengambilan kebijakan, kesesuaian bidang dosen, UKT, nomenklatur Psikologi Islam, sampai persoalan masuknya aparat penegak hukum atau APH ke lingkungan kampus.

Mahasiswa menyebut kritik tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap kemajuan UIN Salatiga.

Mereka berharap persoalan yang dirasakan mahasiswa tidak sekadar didengar, tetapi juga mendapat perhatian dan evaluasi.

Nah, di bagian ini yang menarik.

Pihak kampus tidak memilih berjarak dengan massa aksi. Wakil Rektor I Prof Miftahuddin dan Wakil Rektor II Prof Suwardi datang menemui mahasiswa.

Sejumlah pimpinan fakultas juga ikut hadir. Ada Dekan FTIK Prof Rasimin dan Dekan Fakultas Dakwah Prof Adang.

Akhirnya, yang tadinya berupa aksi berubah menjadi ruang pertemuan.

Mahasiswa bisa menyampaikan langsung berbagai persoalan yang mereka soroti. Pihak universitas pun mendapat kesempatan mendengar masukan dari mahasiswa mengenai kebijakan dan kondisi yang mereka rasakan selama kuliah.

Sederhana, tetapi penting.

Sebab kampus bukan cuma tempat mahasiswa datang, duduk di kelas, mengerjakan tugas, lalu pulang. Perbedaan pandangan dan kritik juga menjadi bagian dari dinamika kehidupan kampus.

Dalam konteks itu, membuka ruang dialog membuat aspirasi mahasiswa tidak berhenti sebagai suara di balik spanduk.

Kritik tetap menjadi kritik. Tetapi ketika ada ruang untuk duduk bersama, setidaknya persoalan yang dipersoalkan punya tempat untuk dibicarakan.

Aksi mahasiswa UIN Salatiga pun akhirnya bukan cuma soal siapa yang paling keras bersuara.

Ada mahasiswa yang menyampaikan keresahan, ada pimpinan kampus yang datang mendengar, dan ada ruang dialog yang mempertemukan keduanya.

Selebihnya, tentu pekerjaan rumahnya adalah bagaimana berbagai aspirasi tersebut menjadi bahan evaluasi dan benar-benar bisa mendorong perbaikan kampus ke depan.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x