Ketika Lukisan dan Batik Tua Ambarawa Bertemu, Bukan Sekadar Pajangan di Pendopo

Heru Santoso
Heru Santoso
11 Sep 2026 14:00
4 menit membaca

MOJOKNEWS.COM – Ada yang datang membawa kanvas, ada yang membawa kain penuh motif. Dua dunia yang berbeda itu akhirnya duduk berdampingan di pendopo Grha Abdi Praja, Kantor Kecamatan Ambarawa.

Namanya “Pameran Kolaborasi Komunitas Batik Patron Ambarawa bersama HIPPA”. Isinya bukan cuma soal lukisan yang dipajang rapi atau kain batik yang dibentangkan agar terlihat cantik. Lebih dari itu, pameran ini seperti upaya mengingatkan bahwa warisan budaya tidak cukup hanya disimpan di lemari atau museum.

Ia harus dipamerkan, diceritakan, bahkan kalau bisa dibeli dan dibawa pulang.

Pameran yang berlangsung Jumat-Sabtu (11-12/9/2026) itu menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi ke-321 Ambarawa. Sebanyak lebih dari 50 lukisan karya para perupa yang tergabung dalam HIPPA (Himpunan Perupa Palagan Ambarawa) dipertemukan dengan karya Batik Patron Ambarawa.

Kolaborasi tersebut juga melibatkan mahasiswa FKIP UNS serta para pegiat Batik Patron Ambarawa.

Batik yang Sempat Hilang Ratusan Tahun

Di antara deretan kain batik yang dipamerkan, ada cerita panjang yang mungkin lebih menarik daripada sekadar motifnya.

Mahfud, pegiat utama Batik Patron Ambarawa, mengatakan batik tersebut bukan karya baru yang tiba-tiba muncul karena tren. Batik Patron merupakan warisan nenek moyang Ambarawa yang memiliki perjalanan panjang.

Menurut dia, Batik Patron Ambarawa bahkan tercatat tersimpan di Museum Leiden, Belanda, dan telah diproduksi sejak 1876.

Namun, perjalanan batik ini sempat seperti cerita yang hampir hilang. Selama ratusan tahun, keberadaannya tidak banyak diketahui hingga kembali ditemukan sekitar 2020.

“Batik Patron ini sempat hilang lebih dari ratusan tahun. Pada kisaran tahun 2020 kembali ditemukan, bahkan motifnya ada puluhan jenis. Sekarang mulai dikembangkan kurang lebih enam motif batik,” ujar Mahfud saat menjelaskan kepada pengunjung.

Batik yang dulu mungkin hanya dikenal oleh kalangan tertentu, kini perlahan kembali diperkenalkan kepada masyarakat.

Seni Tidak Hanya untuk Dipandang

Sementara itu, puluhan lukisan karya HIPPA mencoba berbicara dengan bahasa yang berbeda.

Ada warna, bentuk, dan interpretasi masing-masing pelukis yang dipajang dalam satu ruang. Ketua HIPPA Yohanes Handoko menyebut pameran tersebut menjadi kesempatan bagi para perupa untuk memperkenalkan karya mereka lebih luas.

Ia juga mengapresiasi dukungan Tim PISN UNS yang membantu proses penyelenggaraan pameran.

“Selamat menikmati pameran lukisan ini, semoga ada yang membelinya juga,” ujar Handoko.

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi di baliknya ada realitas bahwa seni tidak selalu harus berhenti sebagai tontonan. Lukisan juga bisa menjadi karya yang memiliki nilai ekonomi.

Harga lukisan yang dipamerkan pun beragam, mulai Rp500 ribu hingga Rp7,5 juta.

Budaya Harus Keluar dari Ruang Sepi

Perwakilan Tim PISN UNS Rony mengatakan karya seni yang ditampilkan dalam pameran tersebut memiliki nilai tambah dan fungsi tersendiri.

Menurut dia, kegiatan tersebut menjadi langkah awal untuk mendorong kebangkitan karya seni lokal.

Apresiasi juga datang dari Pemerintah Kecamatan Ambarawa. Sekretaris Kecamatan Ambarawa Harmini yang mewakili Camat Ambarawa Wahyu Pito Nugroho menilai pameran tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga budaya bangsa.

“Intinya sebagai salah satu wujud pelestarian budaya bangsa khususnya pelestarian Batik maupun Seni Lukis,” katanya.

Menurut Harmini, seni memang tidak selalu bisa dinikmati semua orang dengan cara yang sama. Namun setiap karya memiliki kebanggaan tersendiri bagi pencipta maupun masyarakat yang menghargainya.

Ia berharap Batik Patron Ambarawa semakin dikenal luas sebagai salah satu batik tua di Jawa Tengah.

Dari Pendopo Menuju Ingatan Publik

Pameran kemudian resmi dibuka dengan pengguntingan pita oleh Sekcam Ambarawa Harmini didampingi Kapolsek Ambarawa dan Danramil Ambarawa.

Turut hadir Danramil 09/Ambarawa Kapten Inf Sutarjo, Kapolsek Ambarawa AKP Wiwid Wijayanti, Tim PISN UNS, Ketua HIPPA Yohanes Handoko, Ketua Batik Patron Mahfud, para kepala sekolah dasar di Ambarawa, serta unsur Babinsa dan Bhabinkamtibmas.

Selain dipamerkan, karya-karya tersebut juga ditawarkan kepada masyarakat. Kain Batik Patron Ambarawa ukuran 2 meter x 1,15 meter dijual Rp185 ribu.

Sementara lukisan-lukisan karya perupa HIPPA menunggu pembeli yang ingin membawa pulang cerita dari Ambarawa.

Sebab pada akhirnya, budaya tidak hanya hidup ketika dipuji. Ia bertahan ketika ada yang mengenal, memakai, membeli, dan menceritakannya kembali.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x