INACRAFT Jadi Ruang Belajar, Retno Robby Hernawan Dorong Kriya Salatiga Lebih Berani

Yudha Wardhana
Yudha Wardhana
8 Okt 2026 04:57
3 menit membaca

Jakarta,Mojoknews.com – Produk kriya itu kadang punya cerita bagus, desain menarik, dan dibuat dengan tangan sendiri. Masalahnya, kalau cuma berputar di pasar sendiri, siapa yang mau tahu?

Nah, kesempatan melihat pasar yang lebih luas inilah yang dimanfaatkan Ketua Dekranasda Kota Salatiga, Retno Robby Hernawan, saat menghadiri Opening Ceremony INACRAFT October Vol. 5 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Rabu (7/10/2026).

INACRAFT bukan sekadar tempat untuk melihat-lihat kerajinan sambil keliling stan.

Pameran yang digelar Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) bersama Mediatama Event itu mempertemukan perajin, pelaku UMKM, buyer, hingga pemangku kepentingan dari dalam dan luar negeri.

Dengan kata lain, ini tempat yang cukup serius bagi produk lokal untuk belajar bagaimana caranya tidak berhenti sebagai “produk daerah”.

Dari Salatiga, Melihat yang Lebih Besar

INACRAFT Oktober 2026 diikuti 830 peserta yang menempati lima hall serta area lobby JICC.

Pesertanya cukup beragam. Ada 706 peserta individu anggota ASEPHI, 85 peserta dari dinas, 16 stan kementerian/BUMN, 18 peserta luar negeri, serta peserta individu nonanggota dan pelaku kuliner.

Penyelenggara bahkan menargetkan 80.000 pengunjung selama lima hari.

Bukan cuma ramai pengunjung, target bisnisnya juga tidak main-main. Ada 120 potential buyer internasional, transaksi retail Rp100 miliar, serta kontrak dagang mencapai 2,7 juta dollar AS.

Buat pelaku UMKM, angka-angka itu tentu bukan sekadar angka.

Di sanalah peluang untuk melihat bagaimana sebuah produk lokal bisa dikemas, dipasarkan, kemudian diperkenalkan ke pasar yang lebih luas.

Menteri Perdagangan: Lokal Harus Berani Naik Kelas

Menteri Perdagangan Republik Indonesia Budi Santoso yang membuka INACRAFT Oktober 2026 menyebut pameran tersebut sejalan dengan tiga program prioritas Kementerian Perdagangan pada 2026.

Yakni pengamanan pasar dalam negeri, perluasan pasar ekspor, serta mendorong produk lokal untuk naik kelas ke pasar global.

“INACRAFT Oktober 2026 adalah cerminan nyata dari ketiga arah tersebut, sekaligus pasar domestik yang kuat sebagai pondasi, perluasan pasar tujuan ekspor, dan produk kriya lokal yang kita dorong untuk naik kelas menjadi panggung global,” ujar Budi Santoso.

Budi juga menyoroti pentingnya regenerasi perajin melalui youth-preneur.

Generasi muda didorong tidak hanya membuat produk, tetapi juga berani berinovasi, memanfaatkan ekosistem digital, dan menyesuaikan diri dengan standar pasar internasional.

Sebab, produk bagus saja kadang belum cukup. Kemasan, kualitas, inovasi, sampai cara memasarkannya juga ikut menentukan apakah sebuah produk bisa melangkah lebih jauh.

Salatiga Jangan Cuma Jadi Penonton

Kehadiran Dekranasda Kota Salatiga di INACRAFT menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan, jejaring, dan peluang pengembangan produk kriya daerah.

Momentum ini juga sejalan dengan komitmen mendorong produk kerajinan dan UMKM Salatiga agar semakin inovatif dan punya daya saing.

Apalagi INACRAFT tidak hanya berisi pameran.

Ada Craft Talk, Workshop, Cultural Performance, Digital Launch, dan Craft Experience Spot. ASEPHI juga menghadirkan Asia Craft Forum bertema “Scaling Up ASEAN Craft Sustainability and Market Access” serta B2B Networking yang mempertemukan entrepreneur muda.

Jadi, datang ke INACRAFT bukan cuma soal melihat barang bagus dari daerah lain.

Bagi Dekranasda Salatiga, ini bisa menjadi kesempatan untuk melihat tren, membuka jejaring, dan membawa pulang wawasan yang bisa dipakai untuk mengembangkan potensi kriya lokal.

Harapannya sederhana: produk Salatiga jangan cuma dikenal di Salatiga.

Kalau bisa, naik kelas dan ikut bermain di pasar yang lebih luas.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x
⚠️ Lisensi Aktual Theme tidak aktif.