Miftahul Arief Jadi Doktor, PWI Jateng Kini Punya Tujuh Pengurus Bergelar S3

Muhammad Syaiful Huda SH
Muhammad Syaiful Huda SH
2 Okt 2026 13:56
4 menit membaca

MOJOKNEWS.COM– Menulis berita dan menulis disertasi jelas dua pekerjaan yang berbeda. Yang satu dikejar deadline, yang satu dikejar jadwal bimbingan, revisi, dan sidang.

Moh Miftahul Arief rupanya memilih menjalani keduanya.

Pengurus PWI Jawa Tengah Seksi Organisasi itu resmi meraih gelar doktor setelah mempertahankan disertasinya dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor Studi Islam di UIN Walisongo Semarang, Rabu (30/9/2026).

Arief dinyatakan lulus dengan nilai ujian 3,98, nyaris sempurna.

Disertasinya berjudul “Urban Marketing: Strategi Pemasaran Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada Masyarakat Perkotaan.” Ujian tersebut dipimpin Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag.

Gelar doktor itu sekaligus membuat Arief menjadi doktor ketujuh dalam jajaran kepengurusan PWI Jawa Tengah periode 2025-2030.

Ketua PWI Jawa Tengah Setiawan Hendra Kelana mengapresiasi capaian tersebut.

Menurut Iwan, sapaan akrabnya, pencapaian Arief tidak datang dalam situasi yang bisa dibilang santai. Di satu sisi, Arief tetap menjalankan aktivitas jurnalistik dan organisasi. Di sisi lain, ia harus menyelesaikan penelitian dan disertasinya.

“Alhamdulillah, kami turut senang saudara kami Mas Moh Miftahul Arief bisa meraih gelar doktor. Ini capaian yang luar biasa. Di samping berkutat dengan tulisan-tulisan populer dalam jurnalistik, masih berjuang menyelesaikan narasi-narasi akademik disertasi, dan berhasil mempertahankannya di hadapan majelis penguji,” ujar Iwan.

PWI Jateng Kini Punya Tujuh Doktor

Dengan diraihnya gelar doktor oleh Arief, jumlah pengurus PWI Jateng yang menyandang gelar S3 kini menjadi tujuh orang.

Sebelumnya, ada Dr Agus Fathuddin Yusuf, Dr Sri Syamsiyah, Dr Hery Pamungkas, Dr Agus Triyono, Dr Henri Peluppesy, dan Dr Suparman. Iwan mengatakan capaian tersebut menunjukkan bahwa pendidikan mendapat perhatian di lingkungan PWI Jateng.

Ia berharap semakin banyak personel PWI Jateng yang melanjutkan pendidikan, baik ke jenjang magister maupun doktoral.

“Ini membuktikan organisasi PWI Jateng diisi pribadi-pribadi yang aware pada pendidikan. Semoga nanti ada personel-personel dari PWI Jateng yang menyusul, mengikuti jejak Mas Arief dan pengurus lainnya,” katanya.

Menurut Iwan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia juga diharapkan ikut memperkuat peran PWI Jawa Tengah.

“Semoga PWI makin bagus peran dan eksistensinya,” ujarnya.

Disebut Pembelajar Sejati

Apresiasi juga datang dari lingkungan akademik UIN Walisongo Semarang.

Direktur Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Muhyar Fanani, M.Ag., menilai Arief merupakan sosok yang konsisten menjadikan aktivitasnya sebagai bagian dari proses belajar.

“Dr. Arief adalah seorang pembelajar sejati. Setiap langkahnya dapat dijadikannya sebagai media belajar,” ujar Muhyar.

Ia kemudian mengutip pemikiran almarhum Prof. Satjipto Rahardjo tentang intelektual yang berbicara melalui pena. Menurut Muhyar, Arief telah mempraktikkan hal tersebut melalui aktivitas menulisnya.

“Kemampuan menulisnya di atas rata-rata mahasiswa kami,” tegasnya.

Meneliti Cara Madrasah Mencari Kepercayaan Orang Tua

Di balik gelar doktor tersebut, ada penelitian yang cukup dekat dengan persoalan sehari-hari: bagaimana madrasah di wilayah perkotaan menarik kepercayaan orang tua.

Dalam disertasinya, Arief meneliti empat madrasah ibtidaiyah melalui penelitian multisitus, yakni MI Nurul Islam Ngaliyan, MI Tarbiyatul Khairat Pedurungan, MI Taufiqiyah Tembalang, dan MI Nashrul Fajar Tembalang.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang tua di kawasan perkotaan tidak memilih madrasah hanya karena faktor agama atau lokasi yang dekat dengan rumah.

Ada pertimbangan lain yang ikut masuk daftar: mutu pendidikan, pelayanan, keamanan, komunikasi, hingga reputasi lembaga.

“Saya menemukan bahwa masyarakat perkotaan tidak lagi memilih madrasah hanya karena faktor agama atau kedekatan lokasi. Mereka juga mempertimbangkan mutu, pelayanan, keamanan, komunikasi, dan reputasi lembaga,” jelas Arief.

Dalam penelitian tersebut, Arief menggunakan pendekatan Segmentation, Targeting, Positioning (STP) serta bauran pemasaran 7P.

Ia juga menawarkan Urban-Spiritual Resonance Model dengan empat tipologi pemasaran, yakni Professional-Premium, Balanced-Moderate, Achievement-Inclusive, dan Grassroots-Authentic.

Menurut Arief, setiap madrasah memiliki karakter dan kekuatan masing-masing. Karena itu, strategi pemasaran tidak harus dibuat dengan satu resep yang sama.

“Setiap madrasah tidak harus menjadi sama. Mereka dapat memilih model yang paling sesuai dengan karakter masyarakat, lingkungan, dan kekuatan yang dimiliki masing-masing,” tegasnya.

Pada akhirnya, menurut Arief, persoalan pemasaran madrasah tidak berhenti pada seberapa sering lembaga memasang promosi. Yang lebih penting adalah apa yang benar-benar ditawarkan kepada masyarakat.

“Madrasah yang berhasil bukan yang paling gencar berpromosi. Madrasah yang berhasil adalah madrasah yang mampu menghadirkan mutu dan kepercayaan secara konsisten,” pungkasnya.

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x