Ketika Salatiga Belajar Toleransi dari Sebuah Lelucon

Muhammad Syaiful Huda SH
Muhammad Syaiful Huda SH
11 Sep 2026 13:48
5 menit membaca

MOJOKNEWS.COM— Kalau selama ini toleransi identik dengan seminar, spanduk, dan kalimat-kalimat serius yang biasanya membuat peserta mulai melirik jam, Salatiga punya cara yang sedikit berbeda: ditertawakan.

Bukan dalam arti meremehkan, tentu saja. Justru sebaliknya. Melalui Festival Humor Salatiga, Komunitas Standupindo Salatiga mencoba membicarakan keberagaman, identitas, toleransi, dan kehidupan sosial lewat sesuatu yang lebih ringan: stand-up comedy.

Festival ini merupakan rangkaian kegiatan yang didukung Kementerian Kebudayaan dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), serta berkolaborasi dengan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Dakwah UIN Salatiga.

Gagasannya sederhana: kalau perbedaan sering membuat orang tegang, barangkali sesekali perbedaan perlu dibicarakan sambil tertawa.

Lagipula, manusia biasanya lebih mudah mendengarkan ketika tidak merasa sedang diceramahi.

Belajar Jadi Komika, Bukan Sekadar Belajar Bikin Orang Ketawa

Festival ini dimulai dari sekolah.

Lewat program “Komika Goes to School”, siswa SMA/SMK di Salatiga diajak belajar stand-up comedy sekaligus public speaking. Kick off digelar pada 10 Agustus 2026 di Pansi Coffee & Community Hub bersama komika asal Salatiga, Ondy Setya.

Setelah itu, pelatihan berlanjut ke tiga sekolah: SMK PGRI 2 Salatiga bersama Toat Abdaul, SMA Sainstek Ahmad Dahlan Salatiga bersama Thesar Yanuar, serta SMA Negeri 2 Salatiga bersama Alan Tamalagi.

Para siswa tidak sekadar diajari bagaimana memegang mikrofon dan kemudian berharap penonton tertawa.

Mereka belajar mengubah pengalaman, kegelisahan, bahkan keresahan menjadi materi komedi.

Menurut Ondy, kemampuan berkomunikasi sebenarnya sudah dimiliki banyak orang. Tinggal bagaimana keresahan tersebut diolah agar bisa disampaikan dengan cara yang menghibur.

Sementara Toat Abdaul menekankan bahwa menjadi komika bukan cuma perkara punya bahan lucu. Seorang komika juga harus memahami mengapa sebuah materi bisa membuat orang tertawa.

Ini penting. Sebab kalau semua keresahan langsung dilempar begitu saja ke panggung, yang ada bukan stand-up comedy, melainkan curhat dengan mikrofon.

Dari Sekolah, Naik ke Panggung

Setelah mengikuti pelatihan, para peserta mendapat kesempatan menguji kemampuan mereka melalui Clash of Comedy (COC) pada 28 Agustus 2026 di Pansi Coffee & Community Hub.

Kompetisi dibagi menjadi dua kategori: pelajar dan umum.

Kategori pelajar diikuti siswa yang sebelumnya mendapatkan pelatihan, sementara kategori umum terbuka bagi masyarakat luas.

Di atas panggung, peserta membawakan berbagai materi. Sebagian bahkan mengangkat tema keberagaman, toleransi, identitas, hingga budaya lokal.

Di titik ini, COC menjadi lebih dari sekadar lomba mencari siapa yang paling lucu.

Sebab dalam komedi, seseorang harus belajar menyampaikan sesuatu yang mungkin sensitif tanpa membuat orang lain merasa sedang diserang.

Ternyata bikin orang tertawa juga butuh tanggung jawab.

Dari kompetisi tersebut kemudian dipilih lima finalis dari masing-masing kategori untuk melaju ke grand final.

Para finalis diseleksi oleh tiga juri: Bob Sadoni, komika Salatiga; Widi Arie, Founder Komunitas Standupindo Salatiga; serta Victor yang merupakan delegasi GKJTU Salatiga.

Kalau Toleransi Bisa Dibicarakan Sambil Ngakak

Puncak Festival Humor Salatiga berlangsung pada 10 September 2026 di UIN Salatiga melalui Seminar Nasional Humor dan Grand Final Clash of Comedy.

Tema yang diangkat cukup serius untuk ukuran acara yang sejak awal mengajak orang tertawa:

“Tertawa Bersama, Indonesia Bersatu: Antara Humor, Keberagaman dan Identitas.”

Festival ini berangkat dari kegelisahan yang sebenarnya tidak asing. Di tengah masyarakat yang beragam, perbedaan identitas kadang menjadi sumber gesekan. Agama, budaya, kelompok sosial, hingga identitas lainnya bisa menjadi bahan perdebatan. Namun humor menawarkan cara lain. Bukan untuk menghilangkan perbedaan, melainkan membuat perbedaan tersebut bisa dibicarakan tanpa selalu harus berakhir dalam suasana tegang.

Wali Kota Salatiga dr. Robby Hernawan, Sp.Og, menilai kegiatan tersebut menarik karena mempertemukan sisi akademis dan hiburan sekaligus mengangkat humor sebagai bagian dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Sementara Wakil Rektor I UIN Salatiga, Prof. Dr. Miftahuddin, M.Ag, mengingatkan bahwa humor memang bisa membuat komunikasi lebih cair, tetapi tetap membutuhkan batas etika. Ini barangkali bagian yang sering dilupakan orang ketika merasa sudah punya alasan untuk berkata, “Kan cuma bercanda.” Sebab tidak semua yang membuat kita tertawa otomatis pantas untuk ditertawakan. Kota yang Aman Belum Tentu Kota yang Pernah Diuji

Dalam seminar nasional, Dr. M. Najib Azca, M.A., melihat komunitas stand-up comedy di Salatiga sebagai ruang perjumpaan identitas.

Ada satu gagasan menarik darinya: kota yang tidak memiliki lelucon lintas identitas sama sekali belum tentu merupakan kota yang paling aman. Bisa jadi, kota tersebut hanya belum pernah diuji oleh perbedaan.

Sementara Dr. Hendi Pratama, M.A., menilai kebebasan menyampaikan keberagaman melalui humor dapat membuat pesan lebih aman, mudah diterima, dan konsisten.

Dengan kata lain, kadang pesan toleransi tidak harus selalu memakai bahasa yang berat.

Bila saja cukup dengan satu joke yang tepat.

Lima Finalis, Satu Panggung, Banyak Identitas

Setelah seminar selesai, panggung beralih kepada sepuluh finalis Grand Final Clash of Comedy.

Lima finalis berasal dari kategori pelajar SMA/SMK se-Kota Salatiga dan lima lainnya dari kategori umum.

Materi yang dibawakan beragam. Ada yang membicarakan keberagaman, identitas, agama, hingga budaya lokal.

Hasilnya, kategori umum menghasilkan Yordan sebagai juara pertama, Alan sebagai juara kedua, dan Toat sebagai juara ketiga.

Sementara kategori SMA/SMK dimenangkan Syakilla dari SMK Negeri 2 Salatiga sebagai juara pertama dan Aufa dari SMA Islam Al Azhar 30 Salatiga sebagai juara kedua.

Malam itu kemudian ditutup dengan penampilan Chairul Mukmin, juara 1 SUCI 12 Kompas TV.

Ternyata Toleransi Tidak Harus Selalu Serius

Guru pendamping dari SMA Negeri 2 Salatiga, Supariyatun, melihat dampak lain dari kegiatan tersebut.

Menurutnya, proses membuat materi stand-up comedy membuat siswa tidak hanya belajar menghibur, tetapi juga berpikir kritis, peka terhadap isu sosial, serta melatih kemampuan analitis ketika membahas keberagaman dan toleransi.

Dan mungkin di situlah poin menarik dari Festival Humor Salatiga.

Bahwa toleransi tidak selalu harus dibicarakan dari atas podium dengan wajah serius.

Kadang ia bisa lahir dari keberanian seseorang naik panggung, memegang mikrofon, menceritakan perbedaan yang ia temui, lalu membuat satu ruangan tertawa bersama.

Karena pada akhirnya, kita boleh berbeda dalam banyak hal, tetapi setidaknya masih bisa menemukan alasan untuk tertawa di ruangan yang sama.

Dan kalau sebuah lelucon berhasil membuat orang yang berbeda identitas duduk berdampingan lalu tertawa bersama, mungkin humor memang bukan sekadar hiburan

Mungkin, sesekali, humor adalah cara paling manusiawi untuk mengingatkan bahwa perbedaan tidak harus selalu menjadi alasan untuk bermusuhan.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x