SEMARANG,Mojoknews.com – Kinerja ekonomi nasional dan dampak kebijakan pemerintah terhadap masyarakat menjadi sorotan dalam diskusi publik bertajuk “Dua Tahun Prabowo-Gibran, Masa Depan Industri Padat Karya dan Kerja Layak di Jateng” yang digelar Karya Milenial Serasi di Semarang, Jumat (23/10/2026).
Diskusi tersebut membahas laporan kompilasi capaian nasional bertajuk Transformasi Bangsa: Dua Tahun Gerak Nyata, yang memuat sejumlah indikator ekonomi dan program pemerintah selama dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Dalam laporan tersebut, pertumbuhan ekonomi nasional pada Semester I 2026 disebut mencapai 5,45 persen. Angka itu menjadi salah satu indikator yang dibahas dalam forum, terutama terkait dampaknya terhadap kondisi ekonomi daerah, penyerapan tenaga kerja, dan kesejahteraan masyarakat.
Forum menghadirkan pengamat ekonomi Yusuf Wicaksono dan aktivis pro-buruh Muhammad Raehan. Keduanya membahas hubungan antara kebijakan pemerintah pusat dengan perkembangan ekonomi dan ketenagakerjaan di Jawa Tengah.
Pertumbuhan Ekonomi Jawa Tengah Lampaui Nasional
Pengamat ekonomi Yusuf Wicaksono mengatakan, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada Semester I 2026 tercatat sebesar 5,80 persen. Sementara itu, pada triwulan I 2026, pertumbuhan ekonomi provinsi tersebut mencapai 5,89 persen secara tahunan (year-on-year).
Menurut Yusuf, capaian tersebut menunjukkan perkembangan ekonomi regional yang perlu diikuti dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat dan perluasan kesempatan kerja.
Ia juga menyoroti sejumlah indikator sosial ekonomi nasional. Berdasarkan data yang dipaparkan dalam diskusi, tingkat kemiskinan nasional pada Maret 2026 berada di angka 8,07 persen, sedangkan tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2026 tercatat 4,68 persen.
Di Jawa Tengah, tingkat pengangguran terbuka pada periode yang sama disebut mencapai 4,24 persen.
“Pertumbuhan ekonomi ini diiringi perbaikan indikator kesejahteraan umum. Secara nasional, tingkat kemiskinan turun menjadi 8,07 persen per Maret 2026 dan tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 4,68 persen pada Februari 2026. Di Jawa Tengah, TPT pada periode yang sama berhasil ditekan ke angka 4,24 persen,” ujar Yusuf.
Kinerja BUMN dan Hilirisasi Jadi Perhatian
Selain pertumbuhan ekonomi, Yusuf menyoroti kinerja sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) yang disebut mengalami peningkatan laba selama Semester I 2026.
Dalam paparan yang disampaikan, laba konsolidasi Pertamina disebut meningkat 86 persen menjadi Rp36,8 triliun. Sementara itu, laba PT Timah diklaim meningkat hingga sembilan kali lipat dan kinerja Pupuk Indonesia tumbuh sebesar 252 persen.
Yusuf juga menyinggung proyek hilirisasi di sektor energi, termasuk pembangunan kilang bensin baru Pertamina di Cilacap yang menurut paparan telah dimulai pada April 2026.
Menurutnya, pengembangan industri strategis tersebut menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam upaya memperkuat ketahanan energi sekaligus mendorong aktivitas ekonomi daerah.
Program Pemerintah dan Dampaknya bagi Masyarakat
Dalam diskusi tersebut, program penurunan harga pupuk bersubsidi dan Makan Bergizi Gratis (MBG) turut menjadi pembahasan, terutama berkaitan dengan sektor pertanian dan penyerapan tenaga kerja lokal.
Berdasarkan materi yang dipaparkan, harga eceran tertinggi (HET) pupuk bersubsidi disebut turun sebesar 20 persen. Harga pupuk urea tercantum sebesar Rp1.800 per kilogram, sedangkan pupuk NPK sebesar Rp1.840 per kilogram.
Kebijakan tersebut dinilai dapat membantu menekan biaya produksi petani. Selain itu, pelibatan petani lokal sebagai pemasok bahan pangan untuk program MBG dinilai berpotensi membuka pasar bagi hasil pertanian daerah.
Aktivis pro-buruh Muhammad Raehan menyoroti keterkaitan program MBG dengan aktivitas ekonomi masyarakat, mulai dari pengadaan bahan pangan hingga distribusi dan operasional dapur.
Berdasarkan data Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) yang dikutip dalam materi diskusi, sebanyak 3.826 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah beroperasi di Jawa Tengah hingga Maret 2026. Keberadaan unit tersebut disebut menyerap lebih dari 164.000 tenaga kerja lokal.
Raehan menilai, dampak program pemerintah terhadap masyarakat perlu dilihat tidak hanya dari jumlah program yang berjalan, tetapi juga dari manfaat ekonomi yang dirasakan petani, pekerja, dan pelaku usaha lokal.
Vokasi dan Kerja Layak Jadi Tantangan Berikutnya
Selain membahas pertumbuhan ekonomi, forum tersebut menyoroti pentingnya peningkatan kualitas tenaga kerja di tengah perkembangan industri dan perubahan kebutuhan pasar kerja.
Dalam materi yang disampaikan, sejumlah program pengembangan keterampilan turut menjadi perhatian, antara lain program SMK Go Global yang menargetkan 500.000 lulusan berdaya saing global setiap tahun, perluasan kuota magang bagi lulusan sarjana hingga 150.000 peserta pada 2026, serta pelatihan 15.000 insinyur semikonduktor melalui Danantara bersama mitra global.
Program-program tersebut dibahas sebagai bagian dari upaya meningkatkan kompetensi tenaga kerja agar mampu memenuhi kebutuhan industri yang terus berkembang.
Meski demikian, peningkatan keterampilan perlu berjalan beriringan dengan penciptaan lapangan kerja, perlindungan hak pekerja, dan penerapan standar kerja yang layak.
Diskusi yang digelar Karya Milenial Serasi itu menjadi ruang untuk membahas capaian ekonomi nasional sekaligus menelaah tantangan yang masih dihadapi Jawa Tengah. Pertumbuhan ekonomi, menurut pokok pembahasan forum, perlu diikuti upaya memperluas kesempatan kerja dan memastikan manfaat pembangunan dapat dirasakan oleh masyarakat.
Tidak ada komentar