KAB.SEMARANG,Mojoknews.com – Membangun desa tidak seperti membalik telapak tangan. Ada program yang sudah berjalan, ada pembangunan yang mulai terlihat hasilnya, tetapi ada pula pekerjaan yang belum selesai. Bagi M. Khoirudin Bagas, A.Md., R.O., persoalan itulah yang menjadi salah satu alasan untuk kembali maju dalam pemilihan kepala desa.
Petahana Kepala Desa Muncar, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, itu kembali mendaftarkan diri sebagai bakal calon kepala desa untuk periode 2027–2035. Bagas mengaku masih memiliki sejumlah program yang ingin dituntaskan setelah delapan tahun memimpin desa tersebut.
Ia mengibaratkan pembangunan desa seperti membangun rumah yang belum rampung. Fondasinya sudah ada, sebagian bagian rumah sudah terpasang, tetapi masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.
“Ibarat membangun rumah, saya yang memulai, tetapi rumahnya belum selesai. Saya merasa harus bertanggung jawab untuk menuntaskannya,” kata Bagas.
Baginya, kembali mencalonkan diri bukan sekadar urusan mempertahankan jabatan. Ada program yang sudah dirintis dan menurutnya membutuhkan kesinambungan agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
Tiga persoalan menjadi perhatian Bagas: pengembangan desa wisata, penyediaan air bersih, dan penguatan ketahanan pangan melalui budidaya ikan.
Desa wisata bukan sekadar tempat rekreasi
Bagas ingin menjadikan desa wisata sebagai salah satu penggerak ekonomi masyarakat. Potensi yang dikembangkan tidak hanya berupa tempat rekreasi, tetapi juga kebudayaan lokal yang dinilainya perlu mendapat perhatian lebih.
Ia menilai kebudayaan Jawa semakin tergerus oleh perkembangan zaman. Karena itu, pengembangan wisata berbasis budaya dianggap penting, bukan hanya untuk menarik pengunjung, tetapi juga menjaga identitas masyarakat.
“Kami ingin membangun ekonomi melalui desa wisata yang sudah dirintis sejak awal. Kami juga ingin mengangkat kebudayaan, khususnya budaya Jawa, yang mulai terkikis oleh perkembangan budaya dari luar,” ujarnya.
Pengembangan desa wisata, menurut Bagas, perlu melibatkan masyarakat. Potensi lokal harus diolah agar tidak berhenti sebagai daya tarik wisata, tetapi juga membuka peluang usaha bagi warga.
Pemerintah desa telah memetakan potensi enam dusun berdasarkan bidang masing-masing, mulai dari kuliner, kerajinan, budaya, religi, agro, hingga homestay.
Pemetaan tersebut diharapkan memudahkan pengembangan usaha masyarakat sesuai dengan potensi wilayahnya.
Embung sudah dibangun, distribusi air belum tuntas
Di balik rencana pengembangan wisata, ada persoalan yang lebih mendasar: air bersih.
Bagas mengakui sebagian masyarakat masih menghadapi kesulitan memperoleh air bersih. Pemerintah desa telah membangun embung, tetapi airnya belum didistribusikan kepada warga.
Persoalan ini menjadi salah satu pekerjaan rumah yang ingin diselesaikannya.
Bagas mengaku optimistis sistem pengolahan dan penyaringan air yang direncanakan dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat. Berdasarkan informasi yang diterimanya, kapasitas sistem tersebut diperkirakan mampu melayani sekitar 800 kepala keluarga.
“Kami sudah membuat embung, tetapi airnya belum didistribusikan kepada masyarakat. Kami optimistis program ini bisa membantu memenuhi kebutuhan air bersih warga,” katanya.
Namun, pembangunan embung saja belum cukup. Sistem pengolahan dan jaringan distribusi tetap perlu dipastikan siap agar manfaatnya benar-benar sampai ke rumah warga.
Bagi masyarakat, ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya fasilitas yang berdiri, melainkan juga manfaat yang bisa digunakan sehari-hari.
Mengkhawatirkan masa depan petani
Pekerjaan rumah berikutnya berada di sektor ketahanan pangan.
Bagas menyoroti usia petani di Desa Muncar yang menurutnya rata-rata sudah di atas 50 tahun. Kondisi itu memunculkan kekhawatiran mengenai regenerasi petani jika anak-anak muda semakin sedikit yang tertarik melanjutkan usaha pertanian.
Salah satu alternatif yang dikembangkan adalah budidaya ikan.
Bagas menilai Muncar memiliki potensi untuk mengembangkan sektor perikanan karena didukung ketersediaan air dan lahan. Pemerintah desa juga berupaya melakukan pembinaan agar masyarakat dapat mengelola usaha tersebut secara berkelanjutan.
“Kami melihat budidaya ikan cukup menjanjikan. Potensi airnya tersedia dan kami terus melakukan pembinaan kepada masyarakat agar usaha ini bisa berkembang,” ujarnya.
Selain budidaya ikan, pemerintah desa mendorong pemanfaatan lahan yang belum produktif. Bantuan bibit tanaman buah, termasuk durian, telah disalurkan kepada masyarakat. Warga juga mengembangkan tanaman petai dan tanaman lainnya.
Upaya tersebut diarahkan untuk memperluas sumber pendapatan warga sekaligus memanfaatkan lahan yang selama ini belum menghasilkan secara optimal.
Di sektor UMKM, pemerintah desa mendorong pembinaan dan pertemuan rutin bagi pelaku usaha. Harapannya, usaha kuliner, kerajinan, dan produk lokal lainnya dapat berkembang seiring dengan pertumbuhan desa wisata.
Warga punya penilaian sendiri
Keputusan Bagas kembali maju juga mendapat tanggapan dari sejumlah warga.
Eni Sulistiawati, 62 tahun, mengaku telah mengenal Bagas selama bertahun-tahun. Menurut dia, setiap pemimpin memiliki kelebihan dan kekurangan, tetapi ia menilai sisi positif Bagas lebih menonjol.
“Semua manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun, menurut saya, kelebihan Pak Bagas lebih banyak. Saya menyampaikan ini bukan karena disuruh siapa pun, tetapi berdasarkan penilaian saya sendiri,” kata Eni.
Eni menilai Bagas memiliki kepedulian terhadap warga, termasuk ketika ada masyarakat yang mengalami musibah atau menggelar hajatan.
Ia juga menyoroti pembangunan yang mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Beberapa di antaranya adalah jembatan gantung dan fasilitas wisata, termasuk homestay.
Nurkholik, 48 tahun, juga memberikan penilaian positif. Ia menyebut Bagas sebagai sosok yang ramah, jujur, dan rendah hati.
Menurut Nurkholik, pelayanan kepada masyarakat selama ini berjalan dengan baik. Ia berharap pemerintah desa tetap melayani warga tanpa membeda-bedakan latar belakang maupun pilihan politik.
Sementara itu, tokoh masyarakat Mulyadi, 62 tahun, menilai pembangunan infrastruktur di Muncar mengalami perkembangan. Ia berharap program yang sudah berjalan baik dipertahankan, sedangkan kekurangan yang masih ada diperbaiki.
“Yang sudah bagus harus dipertahankan, sedangkan yang masih kurang perlu diperbaiki,” ujarnya.
Penilaian tersebut merupakan pandangan pribadi para warga. Pada akhirnya, masyarakat yang memiliki hak untuk menentukan siapa yang akan memimpin Desa Muncar pada periode berikutnya.
Bagas memilih fokus pada program
Menjelang pemilihan, Bagas mengaku menerima dukungan dari sejumlah warga, baik secara pribadi maupun kelompok. Dukungan itu, menurut dia, menjadi motivasi untuk melanjutkan program pembangunan.
Namun, ia menyadari keputusan akhir berada di tangan masyarakat. Bagas mengajak warga menggunakan hak pilih secara bijaksana dan menjaga situasi tetap kondusif.
Mengenai isu-isu yang berkembang menjelang pencalonan, Bagas mengatakan memilih berkonsentrasi pada program kerja. Ia menyatakan akan bersikap kooperatif apabila ada persoalan yang memang berkaitan langsung dengannya.
Sementara itu, praktisi hukum Muhammad Sofyan mengajak masyarakat mencermati rekam jejak calon dan perkembangan pembangunan desa sebelum menentukan pilihan.
Sofyan menilai sejumlah perubahan telah terlihat selama kepemimpinan Bagas, terutama dalam pengembangan desa wisata, pembangunan infrastruktur, serta kegiatan kesenian dan kebudayaan.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mempercayai informasi yang belum jelas kebenarannya.
“Masyarakat harus bijaksana dan cermat dalam mencermati isu-isu yang berkembang. Informasi yang beredar perlu dikorelasikan dengan fakta yang sebenarnya,” kata Sofyan.
Meski demikian, penilaian terhadap kinerja petahana tetap menjadi hak masyarakat. Rekam jejak, program yang telah berjalan, pekerjaan yang belum selesai, dan rencana ke depan dapat menjadi bahan pertimbangan warga.
Bagi Bagas, persoalannya kini bukan hanya bagaimana mempertahankan apa yang sudah dibangun, tetapi juga bagaimana memastikan pekerjaan yang tersisa benar-benar selesai.
Desa wisata masih perlu dikembangkan. Air bersih masih menunggu penyelesaian distribusi. Budidaya ikan dan UMKM juga membutuhkan pendampingan agar dapat menjadi sumber ekonomi yang berkelanjutan.
Semua itu menjadi pekerjaan rumah yang dibawa Bagas ke arena Pilkades Muncar. Adapun siapa yang akan dipercaya untuk melanjutkan pembangunan, masyarakatlah yang akan menentukan.
Tidak ada komentar