Pemerintah Siapkan Bantuan Beras Hadapi El Nino, Pantau Dampak Erupsi Gunung

Redaksi Mojok News
8 Sep 2026 05:38
3 menit membaca

MOJOKNEWS.COM – Pemerintah mulai memperkuat kesiapan menghadapi potensi fenomena El Nino. Bersamaan dengan itu, pemerintah juga memantau dampak erupsi sejumlah gunung berapi terhadap aktivitas masyarakat, logistik, hingga perekonomian daerah terdampak.

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto bersama jajaran pemerintah di Istana Merdeka, Jakarta, Senin, 7 September 2026.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah membahas kesiapan menghadapi El Nino sekaligus berbagai program bantuan yang disiapkan untuk masyarakat.

“Tadi kita bahas terkait dengan kesiapan untuk menghadapi El Nino dan antara lain juga terkait dengan program-program bantuan yang disiapkan untuk tahun ini,” ujar Airlangga.

Salah satu bantuan yang dibahas adalah bantuan pangan berupa beras. Bantuan yang telah disalurkan hingga September akan dilanjutkan selama tiga bulan berikutnya, yakni Oktober, November, dan Desember, sesuai arahan Presiden Prabowo.

“Termasuk bantuan beras yang sampai dengan bulan September itu 30 kg dan arahan Bapak Presiden itu untuk dilanjutkan di bulan selanjutnya yaitu Oktober, November, dan Desember,” kata Airlangga.

Dengan begitu, pemerintah tidak hanya menyiapkan langkah menghadapi kemungkinan perubahan kondisi iklim, tetapi juga memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap mendapat perhatian.

Erupsi Gunung Ikut Mengganggu Ekonomi

Di sisi lain, pemerintah juga memonitor dampak erupsi sejumlah gunung berapi terhadap kondisi perekonomian di daerah terdampak.

Airlangga mengatakan, wilayah yang terdampak bencana berpotensi mengalami kontraksi ekonomi. Pemerintah masih memetakan program dan sektor yang ikut terdampak di berbagai provinsi.

“Ya pertama tentu di daerah yang terdampak pasti terjadi kontraksi, dan kami masih monitor program-program apa yang terkena di berbagai provinsi tersebut,” jelasnya.

Pemantauan juga dilakukan terhadap aktivitas masyarakat. Airlangga menyebut pemerintah tengah mengamati dampak letusan lima hingga enam gunung di Indonesia, terutama terhadap mobilitas masyarakat yang mengalami penurunan.

“Sekarang juga kami sedang monitor akibat daripada letusan 5-6 gunung di Indonesia ini. Terutama untuk aktivitas masyarakat yang sangat berkurang,” lanjutnya.

Bagi masyarakat di wilayah terdampak, kondisi tersebut tentu bukan perkara kecil. Aktivitas yang berkurang berarti pergerakan ekonomi ikut melambat. Ketika orang-orang mengurangi mobilitas, sektor yang bergantung pada pergerakan manusia dan barang biasanya ikut merasakan dampaknya.

Logistik dan Penerbangan Ikut Terdampak

Gangguan juga mulai diperhatikan dari sisi logistik, khususnya sektor penerbangan. Menurut Airlangga, gangguan penerbangan memiliki kaitan langsung dengan distribusi kargo.

“Logistik sudah pasti di sektor penerbangan sudah terjadi gangguan. Karena sektor penerbangan juga ada kaitannya dengan kargo,” ungkapnya.

Pemerintah kini masih memantau perkembangan gangguan tersebut, termasuk memperkirakan durasi penutupan atau pembatasan penerbangan di wilayah yang terdampak.

“Kita masih monitor berapa lama ini harus ditutup,” pungkas Airlangga.

Pemerintah pun berupaya menjaga agar penanganan bencana tidak berhenti pada aspek keselamatan masyarakat, tetapi juga memperhitungkan dampaknya terhadap distribusi kebutuhan pokok dan aktivitas ekonomi.

Sebab, ketika cuaca berpotensi membuat keadaan lebih sulit dan gunung sedang aktif-aktifnya, setidaknya beras dan logistik jangan ikut dibuat susah bergerak.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x